Mungkin sebagian orang akan iri melihat hasil sawah kami. Suamiku siang malam tak kenal waktu untuk melihat kondisi sawah. Warga disini sudah hafal suara motor suamiku tiap menit terdengar dan melintas di jalan sawah maupun kampung.
Suami tadi siang bilang kalau padi sudah waktunya dipanen, dan itu besuk panennya. Ya hanya sekedar info belaka. Lantas apa dayaku, aku harus siapin makanan buat upacara adat sore ini juga. Belanja buat besuk makan para pekerja tani ada 10 orang lebih. Oh iya dikampung suamiku terkenal orang baik dan royal. Dan tak kira2 kalau suamiku ngasih ke orang. Judulnya harus enak dan banyak, padahal dia tidak kasih uang buat belanjaku dan tak tau dapat dari mana makanan besuk yang penting semua tersedia dan Hukumnya wajib.
Sore hari tak kalah sibuk, kembang setaman dan telur ada beberapa nampan sudah siap. Aku ke warung langganan hutangku yang biasa aku bayar dengan kata nanti. Nasi kuning dan tumpeng kecil sudah sedia. Dengan beberapa tetangga ucapan doa dan syukur buat Gusti Allah dipanjatkan. Semoga panen kali ini melimpah ruah dan hasilnya bagus.
Jam 9 malam, rasa kantukku hilang karena jerit tawa anak2ku yang masih kecil. Aku harus bangun pagi untuk masak sarapan orang kerja besuk. Tapi pikiranku melayang entah brantah apa yang harus aku lakukan besuk. Buru2 anak2 ku aku ajak ke kamar dan sedikit nyanyian pengantar tidur biar segera istirahat.
Anak2 terlelap kemudian aku bangun dan nyicil untuk masakan besuk. Aku potong2 sayur dan menyiapkan beberapa bumbu jadi besok pagi bisa lebih cepat. Tak terasa sudah pukul 11 malam lewat, kampung sudah sepi hanya suara nyamuk dan jangkrik dan sesekali suara ngorok suamiku yang tersedak.
Jam 2.30 pagi aku bangun, aku mulai nyalakan kayu bakar. Waktu kurasa sangat cepat, satu persatu nasi, sayur, lauk ku sudah matang. Anakku tiba2 yang kecil nangis. Tak pikir panjang aku samber botol dan buatin susunya. Aku raih dia
" tidur ya ndok...bue sek masak ya...ayu tenan kok ndok e" sambil ku usap2 wajah kecil putriku
Kembali aku ke dapur dan bungkusin nasi, sudah siap semua 10 bungkus sarapan di sawah. Suamiku bangun dan menanyakan sarapan. Aku tunjuk di atas meja dan dia bablas pergi. Selang sebentar suamiku datang lagi. Sedikit uring2an dan nada keras bahwa nasinya kurang. Ada tambahan tanpa dia bilang dulu. Anakku kaget dan nangis dengar suara keras bapaknya. Aku hibur bentar dan aku kerjakan kekurangan sarapan tadi. Setelah itu suamiku langsung buru2 anter ke sawah.
Sudah jam 5.45 mau aku bangunkan anak untuk mandi, aku rasa masih dingin.
"Biarlah sampai sebangunnya anakku, kasian" gumamku
Aku bereskan semua piring, panci dan perabotan yang kotor. Sekarang aku mulai memasak lagi. Masak untuk makan siang. Aturan suamiku makan siang buat sawah jam 10, makan harus beda dengan pagi. Ntah bagaimana caranya nggak mau tau. Yang ngerjain di dapur jungkir balik dari pagi buta juga tak perduli.
Masakan sudah hampir matang, anak2 ku sudah bangun. Satu2 aku rayu untuk mandi, makaikan baju seragam, menyuapinya makan sedikit teriak2an ku kecil agar anakku bisa cepat. Walaupun hanya begitu butuh waktu lama. Namanya bocah tak bisa aku paksa cepat atau ngunyah makanan cepat. Aku harus ekstra mondar mandir nyuapin sambil masak di dapur.
Tak bisa aku ceritakan semua jungkir balikku tiap pagi. Cucian, masakan, anak2, beresin rumah, ngurusi sarapan sawah...ya begitulah. Dan itu sendiri, bener2 sendiri dengan hasil yang siap dicaci suami jika tidak sesuai.
Anak2 aku giring ke sekolah, lumayan jauh dari rumah, apalagi dekat jalan raya, was was jika tidak ditemani. Setelah anter sekolah aku lanjut di dapur sambil ngucek cucian baju2 anakku semalam. Masakan siap. Setelah semua selesai pukul 10.00 aku harus jemput anakku dan bablas ke sawah, mungkin ada yang bisa aku bantu.
Ya....indahnya duniaku
Mungkin orang mengira keluargaku selalu bahagia, makan enak dan kecukupan, melihat suamiku yang sangat royal dan baik pada orang. Mereka tak tau jungkir baliknya yang di rumah, tidak tau nasib perempuan yang dirumah, kebutuhan rumah, mereka tidak tau asalnya dan buatnya.....ya sudahlah...