Siang beranjak menyengat kulit,beberapa kali aku usap keringat yang terus mengucur. Dari tadi duduk di pinggiran jalan dengan menjajakan hasil kebun, baru sedikit yang laku. Hari ini setengahpun jualanku belum terjual. Mungkin ini sudah rejeki dariNya untuk hari ini. Aku bereskan daganganku, aku gendong di punggung dengan secarik kain jarik lusuhku. Beberapa temen pasar juga sudah berjalanm pulang..
Menyusuri jalanan kampung mencari yang agak teduh, lumayan jauh dari rumah. Di kampungku sendiri tak ada pasar, jadi harus berjalan 2-3 kampung baru ada pasar. Daganganku semakin berat membebani pundakku, sedikit air putih yang aku bawa dari rumah tadi pagi menyegarkan tenggorokanku.
Terlihat dari kejauhan rumahku, masih tertutup semua pintu dan jendela. Mungkin anakku pulang sekolah langsung main, dan suamiku masih diladang. Aku coba lewat pintu samping barangkali tidak dikunci, dan tiba2 anakku lari dari dalam.
" bu....bawa jajan nggak?" Sapa anakku dengan mata berbinar penuh harap
" tunggu ya le...sebentar" jawabku
Hanya ini yang sanggup ku belikan untuk anakku, mainan murahan hanya Rp. 25,-. Alhamdulillah anakku mau menerimanya, dan hampir setiap hari hanya itu jajanku dari pasar. Anakku langsung lari ke kamar dan riuh suaranya mainan sendiri seperti pasukan beneran. Tak bisa aku membeli jajan dan mainan seperti yang lainnya. Ingin sekali membelikannya tapi untuk makan saja dan kebutuhan pokok kami masih kesulitan.
Saat semua lelah menimbunku, saat semua badan seakan mati rasa, kau menyapaku di depan pintu. Mungkin emosiku langsung level atas, bawaanku yang berat aja masih di pundakku, kakiku belum juga melangkah masuk pintu, panas terik dan peluh keringat menghajarku seharian. Tapi apalah daya... Senyum anakku jadi obat dahaga, obat hatiku. Senyum kecil dan suara lembut. Ibarat aku disapa malaikatku.
Aku taruh daganganku di sudut rumah, kemudian aku ke dapur bergegas masak sambil beres2 rumah. Setelah kumandang adzan subuh dan sarapan sudah siap, aku berangkat ke pasar jadi rumah baru bisa aku bersihkan setelah dari pasar. Aku tinggalkan rumah dan anak masih terlelap. Suamiku ikut bangun pagi untuk melanjutkan masak sayur dan mengurus anak sekolah kemudian ke ladang.
Makasih Allah aku selalu dikaruniai waktu untuk menikmati rahmat yang Engkau titipkan ini
0 komentar:
Post a Comment