Demi keluarga seorang Dewi rela mengorbankan apa saja

Thursday, 9 April 1992

Maafkan aku suamiku

    Aku jalani hidupku apa adanya, tak neko2 atau mengharuskan yang melebihi kemampuanku. Pertama kenal dengannya aku terkesan atas pribadinya. Nyaman dan mengayomiku di negri perantauan. Hubungan kami berjalan apa adanya dan kami saling mengakui sedang pacaran.
    Beberapa bulan tak tau pastinya, akhirnya dia menyatakan ingin berumah tangga denganku. Saat aku mendengar hal itu, bahagia sekali hidupku, lengkap sudah kebahagianku sekarang. Kami merencanakan hari libur minggu ini mudik ke kampungku, akan aku kenalkan dengan bapak dan ibu. Kemudian orang tuaku juga merespon baik. Dan dua keluarga bersepakat menjalin hubungan sebagai keluarga. Sangat sederhana memang acara pernikahanku, cukup keluarga saja tak ada suara tipe atau  terop depan rumah.
    Setelah nikah beberapa bulan kemudian orang tuaku di kampung meninggal dunia. Adik bungsuku aku bawa merantau ikut suamiku. Aku menjadi orang tua bagi adikku. Aku berhenti kerja untuk mengurus adik dan suamiku. Cita2ku ingin menjadi istri yang sholehah, yang taat suami serta orang tua bagi adik2ku. 
    Hari2 bahagiaku ternyata tak lama, suamiku yang selama ini aku anggap malaikat berangsur2 berubah. Sedikit ada yang tak suka tangan dan kaki tak segan mendarat di badan, kepala bahkan mukaku. Cacian, bentakan dan cemoohan jadi nasi sayur makananku tiap hari. Semua ini aku sembunyikan dari adikku yang masih kecil. Tak perlu tau atas semua ini, belum mengerti apa2 dia. Suamiku adalah sosok yang sangat disegani adikku ibarat bapak sendiri, dia tak boleh tau perilaku buruk suamiku.
    Namanya berumah tangga, akhirnya aku hamil untuk pertama kalinya. Tak ada yang memberitahu bagaimana, tak ada yang tanya bagaimana, tak ada yang perduli bahkan itu suamiku sendiri. Aku tak tahu orang hamil itu bagaimana, harus apa, atau gimana. Aku hanya menjalaninya hati2, menjaga kandunganku ini dengan nyawaku sendiri. Tak perduli tekanan fisik maupun batin aku rasakan tiap hari.
    Suatu malam entah salah apa aku atau memang ada yang merasuki suamiku. Datang tiba2 dan marah2, ngamuk sejadi2nya. Aku hanya bisa menangis memeluk adikku yang ketakutan. Aku bingung harus minta tolong ke siapa. Pukulan, tendangan bertubi2 ke muka dan badanku. Tak kuasa aku menahan sakitnya, aku meringkuk dan merintih minta ampun kepada suamiku. Tak berhenti disitu aku diseret keluar, sampai lepas jilbabku dan dilemparnya. Kepalaku dibenturkan ke tembok sampai semua gelap adanya.
    Entah berapa lama aku pingsan, aku membuka mata ada adikku menangis tersedu2, anak 5 tahun itu memeluk badanku sesekali menggoyangkan tangannya agar aku cepat bangun. Perih tubuhku dimana2, memar beberapa bagian tubuhku sudah pasti. Aku raba kepalaku ada darah yang mengering. Aku coba bangun dengan sisa tenaga yang ada. Aku gendong adikku dan mengusapnya, aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan memandikan adikku. Aku lihat rumah kosong, entah suamiku pergi kemana, aku coba menjadikan normal suasana. Aku masak untuk adikku dan suamiku nanti jika pulang.
    Berikutnya suasana keluargaku normal seperti tak pernah ada kejadian yang mengerikan itu. Semoga doa2 ku menjadi istri sholehah dan membina rumah tangga samarok terkabul. Cacian dan cemoohan masih ada tapi itu sudah anggep biasa angin lalu. Yang aku jaga sekarang adalah adik dan calon anakku dikandungan tidak apa2 itu sudah lebih dari cukup. 
    Suatu Malam aku terjaga karena mendengar suara gaduh di luar kamar, aku lihat adikku masih lelap di sampingku. Aku rapikan diri dan melangkah keluar kamar untuk melihat. Aku lihat suami dan beberapa temannya di ruang tamu tertawa terbahak2. Aku melangkah ke dapur untuk buatkan minum. Setelah selesai aku aduk dan kurasa udah enak aku melangkah ke ruang tamu. Aku suguhkan teh untuk suami dan teman2nya.
    Saat aku menaruh teh di atas meja, tangan temen suamiku meraih tanganku, sontak aku kaget
"Hey...yang sopan kamu, layani dia dengan baik" bentak suamiku
Langit serasa runtuh, ternyata aku dijual suamiku untuk orang2 itu. Aku takut setengah mati, aku lari ke kamar kusambar adikku yang masih tidur dan keluar lewat pintu belakang.
Lari sebisanya dengan perutku yang membuncit dan menggendong adikku. Pontang panting entah arah mana yang aku tuju. Yang penting jauh dari rumah dan suamiku.
    Sepanjang malam aku lari sesekali berhenti untuk menahan sakit kandunganku dan menaikan badan adikku yang merosot. Sepeserpun uang aku tak bawa, secuil apapun tak ada yang aku bawa dari rumah. Hanya baju yang menempel dibadan saja, pikirku aku dan adikku harus selamat. 
    Karena tak ada saudara atau teman diperantauan, aku putuskan aku mudik malam itu juga. Iya malam itu juga dengan jalan kaki. Surabaya sampai ponorogo aku dengan kondisi hamil dan membawa adikku 5 tahun. Dengan derai air mata aku mulai melangkah.
" ya Allah..hanya engkaulah penolongku saat ini" 

ilustrasi muslimah menangis - keluargacinta.com

Astagfirullah..
Ya Allah atas segala kebesaranMu
Aku mohon ampun atas segala doa yang pernah aku buat
Mohon ampunilah kedua orang tuaku
Ampunilah kesalahan suamiku

Ya Allah kembalikanlah keluargaku 
Ijinkanlah kami bahagia dinaungan berkahMu
Ya Allah yang maha pengasih
Lindungilah anakku kelak, jaminlah dunia akheratnya

Aku berpasrah kepadaMu Ya Allah
Atas apa yang engkau takdirkan kepadaku

    Untuk selanjutnya, aku akan melahirkan anakku dikampung walau sudah tak ada sanak saudara di sana. Akan aku besarkan anakku nanti sebagai orang yang menjunjung tinggi iman dan tanggung jawab. Jika sudah waktunya nanti aku akan kembali ke Surabaya...
Aku akan cari suamiku, akan aku kenalkan anakku padanya, anak hasil cinta dan pernikahan syah sepanjang hidupku. Dan aku tak akan menikah lagi demi anakku. Aku akan sujud di depan suamiku dan mencium kakinya memohon maaf sudah meninggalkannya tanpa pamit. 

" suamiku....maafkan aku, jika memang jasadku dan umurku tak bisa sampai menemuimu, semoga doa dan ucapanku ini disampaikan dengan mu'jizat Nya...."
" anakku mohon maaf ibu, tak bisa menjadi orang tua yang baik, tak bisa mencukupi kebutuhanmu,  tak bisa berimu kasih sayang selayaknya orang tua kepada anaknya... Anaku doa dan air mata sepanjang malam untukmu...panggilan ibu darimu adalah penyemangat hidup ibu.."

Aku menyayangimu anakku..."


0 komentar:

Post a Comment

© Suara Hati Sang Dewi, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena