Demi keluarga seorang Dewi rela mengorbankan apa saja

Friday, 24 April 2015

Perempuan itu wajib tegar?


Kenapa wajib, apa tidak boleh tidak?

Saat perempuan lelah, sakit, bertumpuk kerjaan, beban hidup, hinaan, cemoohan bahkan dalam kondisi terpurukpun dituntuk seorang perempuan tetap tegar, dan menyelipkan semua rasa itu di ujung senyumannya.

Seharian bekerja di rumah, masak, nyuci, ngepel....kalau perempuan capek? Apa dia boleh istirahat, cuti, ada hari liburkah dia. Mengurus anak walah capek badan setengah mati, tetap saja anak diraihnya. Tidak ada kata tidak nak...ntar dulu ibu off....tidak....tetap dan tetap. Apa pria juga begitu?

Saat pria sakit, capek bisa minta istirahat, ke RS atau cuti. Bagaimana perempuan? Capek, letih bisa dia ke RS atau istirahat? Siapa yang mengurus suami, siapa yang menangani anak, siapa yang masak dan mberesin rumah.....tidak ada, mau tidak mau...perempuan lagi

Saat anak ditinggal mati ibunya, dan dirawat bapak...berapa % anak itu baik kehidupannya. Banyak anak sukses karena ibunya tanpa seorang bapak.
Pria dalam bekerja akan selalu memilih sesuai bidang dan hoby. Perempuan bekerja apa saja halal buat keluarga kenapa tidak. Mencuci, menyetrika, gosok kerjaan paling rendahpun sanggup perempuan jalani demi keluarga.

Jangan remehkan perempuan, karena senyumannya bisa jadi rasa getir dan pahit dalam hidupnya, tetapi dia bisa menjalaninya demi keluarga,

© Suara Hati Sang Dewi, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena