Demi keluarga seorang Dewi rela mengorbankan apa saja

Monday, 13 April 2015

Ibu Penyiksa

Baru saja saya melihat ibu menyiksa anak bayinya, video durasi 12 menit bisa menguras air mata saya, sesak nafas saya melihat penyiksaannya, disebar oleh akun di jejaring sosial. Tak mengherankan 8.975 komen untuk mencaci dan menghujat sang ibu. Mungkin ini bukan untuk pertama kalinya penyiksaan anak oleh ibunya, di berita ada 5 anak dibunuh ibunya, ada 2 bayi direndam ibunya bla..bla..berita2 menyayat hati
...kok sebegitunya teganya....

9 bulan engkau elus kan kau sayang dalam kandungan, kau nyanyikan lagu2 indah, kau jaga, kau rawat dengan paruh nyawamu. Kau gadaikan nafas dan nyawamu saat engkau melahirkannya. Kau gendong, kau susui, kau habiskan waktu dan duniamu untukunya.
...lantas kenapa kau tega sedemikian rupa....

Sebagai sesama makhluk yang punya naluri, mungkin hujatan itu adalah kesan pertama ibu yang tega membunuh, menyiksa, melukai, membanting bahkan mencacah anaknya. Lantas dimana, kenapa, bagaimana seorang bapak dan suami saat itu....ada peran bapakkah? Ada tanggung jawab suamikah? Dimana tetangga? Indonesia yang terkenal guyup rukun, gotong royong, ramah? Jika bisikan saja bisa menyebar sekampung, masa jerit tangis bayi, pukulan, benturan tidak ada yang mendengar.
.....sudah hilangkah rasa prihatin dan rasa empati dalam diri masyarakat kita ini...

Dan yang paling aneh, si pembuat video. Apa dia bukan manusia? Dengan santai membuat video secara detail dan lengkap. Orang pertama dan orang yang berada ditempat kejadian sibuk dengan handycamp nya? Rasa manusiawinya apa tidak bangun saat melihat tangis, jerit darah bocah tak berdosa itu.

Polisi dan pemirsa akan menangkap dan menyalahkan si actor dalam video itu, lantas pembuat video dan tetangga, suami apa mereka tidak salah? Membiarkan semua berlalu sampai bocah tak berdaya tersiksa, cacat bahkan meninggal.

Kehidupan makin sulit, himpitan ekonomi bagi masyarakat makin menenaskan. Usaha seadanya tak menghasilkan, tak ada sawah ladang, tantrib siap menghalangi para PKL. Sedangkan perut selalu melilit, bocah bayi merintih kelaparan tanpa tahu pikiran orang tua. Suara dan cemoohan tetangga juga salah satu depresi ibu. Suami tak tanggung jawab, suami tak mau mengerti kebutuhan rumah tangga, keluarga yang tak harmonis, keluarga yang tak ada kata saling menjadi pengaruh besar bagi ibu.

Gerakan selamatkan ibu hamil adalah langkah awal.
Mari kita lanjutkan, agar para ibu selalu bahagia bersama keluarganya. Hidup dalam masyarakat akan harmonis jika ada rasa saling. Ibu yang sendiri, sedih, beban kehidupan banyak menjadi pemicu sebuah kekerasan dan kriminal.

Pikiran wanita sangat sensitif, lautan rasa berada disana tak bisa ditebak susah senangnya. Lindungi wanita dari kekejaman dan tindak kriminalitas.....

© Suara Hati Sang Dewi, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena